Sejarah Perkembangan Muka Bumi

Bumi terbentuk bersama dengan insiden Big Bang. Pada fase terakhir terbentuklah gumpalan kabut bahan yang di dalamnya terjadi proses konsentrasi, artinya partikel-partikel saling bergabung pada pusat-pusat terdekat sesuai dengan gaya gravitasi. Ketika bumi masih dalam keadaan cair (panas), sambil terjadi proses pemuaian suhu alasannya makin jauh dari pusat ledakan terjadilah diferensiasi batuan secara gravitasional. Unsur-unsur berat karam ke pusat bumi, sedangkan yang masbodoh menyembul ke atas. Dengan demikian, terbentuklah planet bumi yang berlapis-lapis dan padat. Beberapa teori mengenai sejarah perkembangan muka bumi akan dijelaskan pada uraian berikut.

Teori Pengapungan Benua (Continental Drift)

Teori ini dikemukakan oleh Alfred Lothar Wegener seorang andal klimatologi dan geofisika menerbitkan buku berjudul “The Origin Of Continent And Oceans”. Teori ini mengemukakan bahwa benua yang terjadi kini ini dulunya yaitu satu benua yang disebut Pangea. Sedikit demi sedikit pangea mengalami retakan-retakan dan pecah. Sekitar 135 juta tahun yang lalu, benua raksasa tersebut pecah menjadi dua, yaitu pecahan benua di sebelah utara dinamakan Laurasia dan di bab selatan dinamakan gondwana. Kedua benua itu dipisahkan oleh jalur bahari sempit yang dinamakan Laut Tethys. Sisa Laut Tethys pada dikala ini merupakan jalur cebakan minyak bumi di sekitar laut-laut di daerah Timur Tengah. Baik Laurasia maupun Gondwana kemudian terpecah-pecah lagi menjadi daratan yang lebih kecil dan bergerak secara tidak beraturan dengan kecepatan gerak berkisar antara 1 – 10 cm pertahun (coba kalian lihat teori tektonik lempeng). Dalam sejarah perkembangan planet bumi, sekitar 65 juta tahun lalu, Laurasia merupakan cikal bakal benua-benua yang dikala ini letaknya di sebelah utara ekuator (belahan bumi utara), mencakup Eurasia, Amerika Utara, dan pulau-pulau kecil di sekitarnya. Adapun Gondwana merupakan cikal bakal benua-benua di belahan bumi selatan, mencakup Amerika Selatan, Afrika, Sub benua India, Australia, dan Antartika, hingga terbentuklah benua benua yang kita saksikan dikala ini. Perhatikan gambar berikut.


a. Dibuktikan adanya persamaan garis kontur pantai timur Amerika Utara dan Amerika Selatan dan garis kontur Eropa Barat dan Afrika. Dibuktikan adanya kesamaan gugusan geologi sepanjang pantai Afrika Barat (dari Sierra Leone - Tanjung Afrika Selatan) dengan gugusan geologi pantai timur Amerika (dari Peru - Balsia Blanca).

b. Daerah Green Sandria bergerak menjauhi Afrika Selatan dengan kecepatan 36 m/th. Pulau Madagaskar bergerak menjauhi Afrika Selatan dengan kecepatan 9 m/tahun.

c. Benua yang kini ini, dulunya satu yang disebut benua Pangaea. Benua Pangaea pecah, di bab selatan bergerak menuju ke barat dan ke utara menuju khatulistiwa. Karena insiden tersebut terjadilah hal hal sebagai berikut.
1) Bentangan benua dan samudera mengapung sendiri-sendiri.
2) Samudera Atlantik menjadi semakin luas alasannya benua Amerika bergerak ke arah barat sehingga terjadi lipatan permukaan bumi yang berwujud bentang pegunungan di pantai barat Amerika dari arah utara - selatan.
3) Adanya kegiatan seismik yang luar biasa di sepanjang patahan St. Andreas bersahabat pantai barat Amerika Serikat.
4) Samudera Hindia mendesak ke arah utara sehingga benua India terdesak dan menyebabkan     terjadinya deretan pegunungan Himalaya.
5) Keadaan benua-benua cukup umur ini pun masih terus bergerak. Dapat dibuktikan makin melebarnya celah-celah yang terdapat di alur-alur dasar samudera.

Teori Laurasia – Gondwana

Teori ini dikemukakan oleh Edward Suess seorang andal Geologi Austria. Teori ini menyampaikan bahwa pada awalnya hanya ada dua benua yaitu Laurasia (di kutub Utara) dan Gondwana (di kutub selatan). Kedua benua tersebut pecah alasannya tertarik oleh equator. Benua gondwana pecah dan membentuk Amerika Selatan, Australia, India dan Antartika, sedangkan benua laurasia pecah membentuk Amerika Utara, Afrika dan Eurasia.

Teori Kontraksi

Teori ini dikemukakan oleh Rene Descrates dan James Dana. Teori ini menyampaikan bumi kita makin menyusut dan mengkerut alasannya pendinginan. Karena itu, terjadilah gunung-gunung dan lembah-lembah. Teori ini menerima sumbangan para andal geologi.

Teori Pemekaran Dasar Samudra (Sea Floor Spreading)

Teori ini dikemukakan oleh Dietz dan Harry Hess. Teori ini menyebutkan bahwa :
Di sepanjang tepi-tepi benua dijumpai palung laut (trench) yang memanjang sejajar dengan jalur pegunungan di atas benua benua.

Teori Lempeng Tektonik

Beberapa tahun sesudah A.L. Wegener mengajukan teorinya, pada tahun 1968 dikemukakan sebuah teori yang lebih memuaskan yaitu “teori tektonik lempeng”. Teori ini dikemukakan oleh  Toso Wilzo (1968) Teori ini menyatakan bahwa bab luar Bumi yaitu bab Lithosfer, terdapat sekitar 20 segmen yang padat yang disebut lempeng. Dari semua itu lempeng terbesar yaitu Lempeng Pasifik yang menempati sebagian besar Samudera Pasifik.

Ada 7 (tujuh) lempeng-lempeng di permukaan Bumi yang dikategorikan lempeng besar/utama yaitu : Lempeng Afrika, Lempeng Amerika Utara, Lempeng Amerika Selatan, Lempeng Pasifik, Lempeng Eurasia, Lempeng Indo-Australia, dan Lempeng Antartika. Disamping tu terdapat lempeng yang kecil menyerupai Lempeng Filipina, Lempeng Arabia, Lempeng Nazca dan Lempeng Scotia.

Salah satu prinsip utama Teori Tektonik Lempeng bahwa setiap lempeng bergerak-gerak sebagai satu unit terhadap unit lain. Ada tiga tipe batas-batas lempeng yang masing-masing dibedakan dari jenis pergerakannya, yaitu :


Konvergensi, yaitu gerakan saling bertumbukan antar lempeng tektonik. Tumbukan antarlempeng tektonik sanggup berupa tumbukan antara lempeng benua dengan benua atau antara lempeng benua dengan lempeng dasar samudera. Zone atau tempat terjadinya tumbukan antara lempeng tektonik benua dengan benua disebut Zone Konvergen. Contohnya tumbukan antara lempeng India dengan lempeng Benua Eurasia yang menghasilkan terbentuknya pegunungan
lipatan muda Himalaya yang merupakan pegunungan tertinggi di dunia dengan puncak tertingginya, yaitu Mount Everest. Contoh lainnya, tumbukan lempeng Italia dengan Benua Eropa yang menghasilkan terbentuknya Pegunungan Alpen. Zone berupa jalur tumbukan antarlempeng benua dengan lempeng dasar samudera, disebut Zone Subduksi atau zone tunjam, misalnya tumbukan antara lempeng benua Amerika dengan lempeng dasar Samudera Pasifik yang menghasilkan terbentuknya Pegunungan Rocky dan Pegunungan Andes.
Fenomana yang dihasilkannya:
1) lempeng samudera menghujam ke bawah lempeng benua;
2) terbentuk palung bahari di tempat tumbukan tersebut;
3) pembengkakan tepi lempeng benua yang merupakan deretan pegunungan;
4) terdapat kegiatan vulkanisme, intrusi dan ekstrusi;
5) daerah hiposentra gempa dangkal dan dalam;
6) penghancuran lempeng akhir pergesekan lempeng;
7) timbunan sedimen adonan atau melange.
Contoh:
Pegunungan di pantai barat Amerika, deretan Pulau Sumatera, Jawa dan Nusa Tenggara, merupakan akhir pembengkakan lempeng benua. Bermunculan puncak gunungapi dan terjadi gempa di sepanjang pulau dan pegunungan tersebut. Ingatlah ancaman gempa yang menyebabkan Tsunami di Aceh dan Sumatera Utara pada simpulan Desember 2004, gempa tersebut timbul akhir adanya tumbukan antara lempeng samudera Australia terhadap lempeng benua Asia.

b. Divergensi
Divergensi yaitu gerakan saling menjauh antarlempeng tektonik misalnya gerakan saling menjauh antara lempeng Afrika dengan Amerika bab selatan. Zone berupa jalur tempat berpisahnya lempeng-lempeng tektonik disebut Zone Divergen (zone sebar pisah). Fenomena yang terjadi, sebagai berikut:
1) Perenggangan lempeng yang disertai pertumbukan kedua tepinya.
2) Pembentukan tanggul dasar samudera (med ocean ridge) di sepanjang tempat perenggangan lempeng-lempeng tersebut.
3) Aktivitas vulkanisme bahari dalam yang menghasilkan lava basa berstruktur bantal (lava bantal) dan hamparan leleran lava encer, dan
4) Aktivitas gempa

Contoh:
Di Lautan Atlantik, tanggul dasar samudera memanjang dari bersahabat Kutub Utara hingga mendekati Kutub Selatan. Celah ini menjadikan benua Amerika bergerak saling menjauh dengan benua Eropa dan Afrika.


c. Sesar Mendatar
Sesar mendatar (Transform foult), yaitu gerakan saling bergesekan (berlawanan arah) antar lempeng tektonik. Contohnya, ukiran antara lempeng Samudera Pasifik dengan lempeng daratan Amerika Utara yang menjadikan terbentuknya Sesar San Andreas yang membentang sepanjang kurang lebih 1.200 km dari San Francisco di utara hingga Los Angeles di selatan Amerika Serikat. Zone berupa jalur tempat bergesekan lempeng-lempeng tektonik disebut Zone Sesar Mendatar (Zone Transform). Bentukan alam yang dihasilkan antara lain patahan atau sesar mendatar. Gerak patahan atau sesar ini sanggup menimbulkan

gempa bumi. Contoh: Sesar Sam Andreas di California.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Konsep Dasar Penginderaan Jauh

Komposisi Susunan Penduduk Menurut Pendidikan

Sejarah Geografi Dan Tokoh Geografi